Tinggalkan komentar

KONTRIBUSI PEMBERIAN INSENTIF DAN MOTIVASI MENGAJAR TERHADAP KINERJA MENGAJAR GURU (Studi Deskriptif Verifikatif di SDN Kecamatan ..) (Pend-113)

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Sekolah merupakan institusi yang kompleks. Kompleksitas tersebut, bukan saja dari masukannya yang bervariasi, melainkan dari proses pembelajaran yang diselenggarakan di dalamnya. Sebagai institusi yang kompleks, sekolah tidak akan menjadi baik dengan sendirinya, melainkan dengan proses peningkatan tertentu.


Proses peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah memerlukan guru, baik secara individu maupun kolaboratif untuk dapat melakukan sesuatu, mengubah suatu kondisi agar pendidikan dan pembelajaran menjadi lebih berkualitas. Untuk mencapai pendidikan dan pembelajaran yang berkualitas suatu lembaga pendidikan sebagai suatu sistem dipengaruhi oleh berbagai komponen, antara lain program kegiatan pembelajaran, siswa, sarana dan prasarana pembelajaran, dana, lingkungan masyarakat, kepemimpinan kepala sekolah, dan faktor guru.

Semua komponen yang teridentifikasi di atas kurang berarti bagi terjadinya perolehan pengalaman belajar maksimal bagi peserta didik bilamana tidak didukung oleh keberadaan guru yang profesional, punya komitmen, motivasi dan kinerja yang baik dalam pelaksanaan tugasnya.

Menjadi guru yang memiliki kemampuan profesional, motivasi dan kinerja yang baik tidaklah mudah. Guru akan bekerja secara profesional bilamana memiliki kemampuan (ability) dan motivasi (motivation). Dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari, baik sebagai pengajar maupun sebagai pendidik, guru akan selalu menghadapi problema. Problema-problema yang dihadapi guru dapat pula berasal dari kebutuhan-kebutuhan guru yang kurang terpenuhi sehingga berpengaruh terhadap proses belajar mengajar yang dikelolanya.

Kinerja guru tidaklah berdiri sendiri, ia akan terkait pada keadaan dan kemampuan dirinya dan juga diwarnai oleh lingkungan di sekitarnya. Dua hal tersebut diidentifikasi sebagai faktor internal dan eksternal yang diduga berpengaruh terhadap kinerja guru. Indikator dari faktor internal ini dapat dilihat dari tingkat pendidikan, motivasi, kepuasan kerja, komitmen, etos kerja dan keluarga, sementara indikator dari faktor eksternal dapat dilihat dari tingkat penghasilan, fasilitas, iklim kerja, hubungan antar manusia dan kepemimpinan.

Tingkat kesejahteraan merupakan salah satu faktor dominan yang berpengaruh terhadap kinerja guru. Kepala sekolah dan instansi terkait bertanggungjawab memperjuangkan kesejahteraan guru. Menurut Siagian (1999: 252):
Motivasi dasar bagi kebanyakan orang menjadi pegawai pada suatu organisasi adalah untuk mencari nafkah. Berarti apabila seseorang menggunakan pengetahuan, keterampilan, tenaga dan sebahagian waktunya untuk berkarya pada suatu organisasi, dilain pihak ia mengharapkan menerima imbalan tertentu.

Sejalan dengan pelaksanaan dan semangat otonomi daerah, Pemerintah Kota Batam membuat kebijakan memberikan insentif kepada para pegawai termasuk guru. Insentif yang diberikan bermaksud agar dapat menambah penghasilan disamping pendapatan gaji, disamping itu agar pegawai lebih bergairah, termotivasi dan dapat lebih terkosentrasi pada komitmen tugas dan tanggungjawabnya. Dengan demikian diharapkan kinerja mengajar guru akan lebih baik, yang tercermin pada kuantitas dan kualitas lulusannya. Senada dengan hal tersebut Braid (Timpe, 2000: 66) mengemukakan:
Uang mungkin tidak memotivasi semua orang sepanjang waktu, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa pegawai harus diberi penghargaan finansial untuk performa produktif, jika itu hendak berlanjut. Bagi pegawai, upah adalah suatu cara untuk memenuhi kebutuhan mereka. Ada yang melihat bahwa pendapatan mereka adalah sebagai sarana penyediaan kebutuhan hidup yang mendasar bagi diri sendiri dan keluarga.

Menurut hemat penulis bahwa kompensasi finansial yang diterima pegawai di Indonesia termasuk guru di Kota Batam pada saat ini masih kurang mencukupi untuk bisa menutupi kebutuhan hidup guru dan keluarganya secara layak, sehingga masih ada guru yang belum terkosentrasi penuh terhadap tugasnya. Masih ada guru yang mencari tambahan luar, setelah jam kerja dan bahkan ada kasus guru yang meninggalkan tugas pada jam kerja untuk mencari tambahan pendapatan.

Kota Batam termasuk daerah yang dikategorikan mahal, kebutuhan sehari-hari di daerah ini tergolong mahal dibanding dengan daerah lain, tambahan insentif daerah yang diberikan di duga belum banyak memberikan kontribusi terhadap kinerja guru, sehingga kinerjanya kurang optimal, walaupun dapat dikatakan bahwa insentif bukanlah satu-satunya faktor yang berpengaruh terhadap kinerja guru. Hal senada dikatakan Keith Davis (Timpe,
2000: 148):

Pegawai yang masih berketetapan untuk bekerja keras menemukan bahwa gaji dan tabungan mereka habis digerogoti oleh inflasi. Imbalan bersih kerja keras mereka rendah, hampir tidak seimbang dengan biaya bagi pegawai dan keluarga mereka.

Krisis ekonomi, sistem perpajakan dan potongan lainnya turut mempengaruhi pendapatan kesejahteraan guru, motivasi dan kinerja guru yang akhirnya berpengaruh pada produktivitas lembaga pendidikan. Ginsburg (Timpe, 2000: 5) mengemukakan:

Manajer yang berhasil dimotivasi oleh berbagai faktor. Didalamnya termasuk kisaran tanggung jawab yang luas, tantangan, dampak positif pada organisasi, pengakuan, kompensasi, hubungan baik dengan atasan dan bawahan, kebebasan berinovasi, bebas mengatur diri sendiri, langkah maju organisasi, kualitas organisasi dan pegawainya serta masa depan baik bagi organisasi maupun individu.

Pernyataan di atas mengandung makna bahwa kebijakan sistem pemberian kompensasi turut mewarnai dan mempengaruhi motivasi mengajar guru. Motivasi mengajar yang rendah diyakini akan menghasilkan kinerja mengajar guru yang rendah, sedangkan motivasi mengajar yang tinggi akan membuat guru berusaha bekerja lebih baik dan menghasilkan kinerja mengajar guru yang optimal.
Fenomena yang terjadi di lapangan berbeda dengan yang diharapkan. Hasil pengamatan penulis di lapangan menunjukkan bahwa kesejahteraan guru di daerah ini masih memprihatinkan, motivasi mengajar dan kinerja mengajar guru masih kurang optimal, hal ini terlihat dari gejala-gejala sebagai berikut:
1. Kinerja mengajar guru

Dalam hubungannya dengan kinerja mengajar guru, terdapat fenomena seperti dibawah ini:
– Masih kurang maksimalnya guru dalam menganalisis dan menjabarkan kurikulum menjadi program pengajaran, seperti program semester, silabus, dan rencana pembelajaran.

– Banyaknya buku sumber yang dipergunakan guru untuk menghimpun materi pelajaran yang diajarkan masih sangat terbatas.
– Masih ada guru yang kurang maksimal menggunakan keterampilan mengajar dalam pengajaran yang dilakukannya.
– Metode mengajar yang dipergunakan guru masih ada yang kurang relevan dengan materi yang disampaikan.
– Masih ada guru yang jarang melakukan analisis terhadap tingkat kemajuan hasil belajar peserta didik.
– Masih ada guru yang tidak mau terlibat dalam kegiatan membimbing kegiatan ekstrakurikuler.

2. Tingkat kesejahteraan

Dalam hubungannya dengan tingkat kesejahteraan guru, terdapat fenomena sebagai berikut:
– Masih ada guru yang mencari tambahan pendapatan, di luar jam kerja.

– Gaji dan insentif (finansial) yang diterima guru masih dirasakan kurang mencukupi kebutuhan guru dan keluarga secara layak.
– Masih ada kasus guru yang meninggalkan tugas mengajar, karena mencari tambahan pendapatan.
– Beberapa kebijakan pemerintah menyebabkan harga barang kebutuhan hidup menjadi tinggi, sehingga gaji dan insentif yang diterima menjadi berkurang untuk menutupi kebutuhan sehari-hari guru dan kelauarga.
3. Motivasi mengajar
Dalam hubungannya dengan motivasi mengajar guru, terdapat fenomena seperti dibawah ini:
– Masih ada guru yang melaksanakan tugasnya hanya sekedar memenuhi tanggungjawabnya mengajar, belum pada taraf meningkatkan pelayanan sehingga menghasilkan prestasi belajar siswa secara maksimal.
– Masih ada guru yang hanya puas dengan hasil belajar peserta didik biasa- biasa saja, belum pada kepuasan untuk mencapai hasil maksimal peserta didiknya.
– Masih kurangnya minat baca guru untuk mempelajari materi bahan ajar yang akan diajarkan kepada peserta didik.
– Masih ada guru yang kurang menguasai keterampilan mengajar, sehingga berdampak pada kurang maksimalnya hasil belajar peserta didik.
– Masih ada guru yang kurang mampu menerapkan prinsip-prinsip ilmiah hasil penelitian pendidikan untuk kepentingan pengajaran.
Fenomena di atas mengandung arti bahwa pengelolaan proses belajar mengajar, pengembangan diri guru, motivasi mengajar dan kinerja mengajar guru masih perlu ditingkatkan mutunya, dan untuk itu pembinaan terhadap kerja guru harus secara kontiniu dilakukan. Faktor kompensasi yang diberikan sebagai balas jasa dan motivasi mengajar perlu diperhatikan apabila ingin meningkatkan kinerja mengajar guru.

Faktor kontribusi kompensasi khususnya pemberian insentif (tunjangan daerah dan sekolah) dan motivasi mengajar terhadap kinerja mengajar guru menarik untuk diteliti, maka penulis memberikan judul tesis ini “Kontribusi Pemberian Insentif dan Motivasi Mengajar terhadap Kinerja Mengajar Guru, dengan sub judul Studi Deskriptif Verifikatif pada Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Sekupang Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau”.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: