Tinggalkan komentar

PENGARUH METODE PEMEBERIAN TUGAS DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL PRESTASI BELAJAR PADA KEGIATAN BIMBINGAN DAN KONSELING KELAS X SMA N. (PEND-50)

Kualitas pembelajaran harus ditingkatkan demi untuk meningkatkan kualitas hasil pendidikan. Dan secara makro harus ditemukan strategi atau pendekataan pembelajaran yang efektif dikelas, yang lebih memperdayakan potensi siswa.


Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pengajaran. Ada dua buah konsep pendidikan yang berkaitan dengan lainnnya, yaitu belajar (Learning) dan pembelajaran (Intruction) . Konsep belajar berakar pada pihak peserta didik (siswa) dan konsep pembelajaran berakar pada pihak pendidik (guru). Kegiatan belajar mengajar melibatkan bebarapa komponen ; yaitu peserta didik, guru (pendidik), tujuan pendidkan/pembelajaran, isi pelajaran. metode mengajar, media dan evaluasi. Tujuan pembelajaran adalah perubahan tingkah laku (over behaver) yang dapat diamati melalui alat indra oleh orang lain baik lewat tutur katanya, metorik dan gaya hidupnya. Pendidikan merupakan sustu sistem yang secara garis besar terdapat komponen masukan, proses dan keluaran (Munandir, 1993 ; 23).Pada sisi input, maka kita akan melihat masukan dalam pproses pendidikan tersebut seperti siswa (kemampuan akademis dan kemampuan non akademis), guru (komponen, indeks prestasi, pengalaman) dan lain-lain. Pada sisi proses, maka kita akan melihat jalannya proses pembelajaran, kurikulum, penerapan teknologi dan lain sebagainya. Selanjutnya pada sisi keluaran maka kita akan melihat mutu tamatan yang dihasilkan.

Proses pembelajaran di sekolah tidak akan dapat lepas dari Layanan Bimibingan dan Konseling. Program bimbingan dan konseling di sekolah tidak dapat dipisahkan dengan mata pelajaran yang lainnya, dengan kata lain bahwa layanan bimbingan pribadi/sosial akan dapat mengisi kekurangan yang terdapat pada mata pelajaran umum. Layanan bimbingan dan konseling khususmya bimbingan pribadi /sosial membantu siswa dalam pengembangan ranah kognitif serta motorik. Hal ini senada dengan pendapat Bruner (dalam Snelbecker, 1993; 415) yang menyatakan bahwa sekolah mempunyai sebagai tempat menumbuhkan intelektual.

Berdasarkan pengertian di atas bahwa pelaksanaan pembelajaran di sekolah dialaksanakan antara lain sesuai dengan keahlian yang dimiliki oleh masing-masing pengajar. Dengan demikian, kegitan pembelajaran di sekolah menuntut agar masing-masing tenaga yang ada mempunyai spesialiasasi sendiri-sendiri. Sebagai contoh, guru bidang studi biologi mempunyai spesialisasi dalam mata pelajaran biologi, guru bahasa inggris mempunyai spesialisasi dalam bidang bahasa inggris, dan konselor mempunyai spesialisasi dalam usaha memabantu siswa yang bermasalah. Perbedaan spesialisasi ini tidak berarti bahwa mereka berjalan secara terpisah. Antara guru dan konselor mempunyai kegiatan sendiri-sendiri dan juga mempunyai identitas sendiri-sendiri ( winkel,1991;102-104).
Apabila kita mengacu pada hasil atau mutu pendidikan, maka produk pendidikan kita saat ini diasumsikan masih jauh dari memadai, terlebih jika diakitkan dengan upaya mempersiapkan manusia Indonesia di masa depan (Mustaji, 2000 ;69; Miarso, 1998 ; 1620). Ada banyak faktor yang dapat dijadikan sebagai penentu ketidak berhasilan pendidikan kita antara lain pemahaman terhadap proses pendidikan.

Undang-undang No.2 tahun 1989 tentan Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa ” Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan /atau latihan bagi perannya dimasa datang”. Upaya pendidikan secara menyeluruh meliputi tiga kawasan kegiatan, yaitu kawasan bimbingan, kawasan pengajaran, dan kawasan latihan. Ketga kawasan itu saling mengait, saling menunjang, bahkan sering kali yang satu tidak dipisahkan dari yang l,ainnya. Suatu upaya pendidikan yang menyeluruh, lengkap, dan mantap harus meliputi secara terpadu ketiga kawasan tersebut. Meskipun kawasan kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan harus dalam keadaan saling terkait dan terpadu, namun ketiganya harus dapat dipilah, dibedakan, bahkan dan di pisahkan. Tujuan pem-bedaan dan pemisahan itu adalah tidak lain untuk dapat dikembang – kannya masing-masing kawasan kegiatan itu.

Menurut Buchori (2001) dalam khabibah (2006 ; 1), bahwa “Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak hanya mempersiapkan para siswanya untuk suatu profesi atau jabatan, tetapi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu masalah pokok dalam pembelajaran pada pendidikan kita dewasa ini adalah masih rendahnya daya serap siswa. Hal ini adalah bahwa masih rendahnya daya serap siswa. Hal ini nampak pada rata-rata hasil belajar siswa yang sentiasa masih sangat memprihatinkan. Prestasi itu tentunya merupakan hasil kondisi pembelajaran yang masih bersifat konvensional yaitu bagaiaman sebenarnya belajar itu (belajar untuk belajar ). Dalam arti yang lebih subtansial, bahwa proses pembelajaran hingga saat ini masih memberikan dominasi guru dan tidak memberikan aksis bagi siswa untuk berkembang secara mandiri melalui penemuan dan proses berpikinya.

Dipihak lain secara empiris, berdasarkan hasil bahwa rendahnya hasil belajar siswa , disebabkan pada proses pembelajaran yang masih di dominasi oleh pembelajaran tradisional. Pada pembelajaran ini suasana kelas cenderung teacher – centerd, sehingga siswa menjadi pasif. Meskipun demikian guru lebih suka menerapkan model tersebut, sebab itu tidak menjelaskan konsep-konsep yang ada pada bahan ajar atau referensi lainnya. Dalam hal ini siswa tidak diajarkan berpikir yang dapat memahami bagaimana belajar berpikir dan memotivasi diri sendiri. Apabila kita ingin meningkatkan prestasi, tentunya tidak terlepas dari upaya peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah.Misalnya dengan adanya penataran guru, penyedian buku paket dan alat-alat laboratorium serta penyempurnaan kurikulum. Salah satu perubahan paradigma pembelajaran adalah orientasi pembelajaran yang semula berpusat pada guru ( teacher centered) beralih berpusat pada murid (student centered); metodologi yang semula lebih di domonasi ekspositori berganti ke partisipatori; dan pendekatan yang semula lebih banyak bersifat tekstual berubah menjadi kontekstual. Semua perubahan tersebut dimaksud untuk memperbaiki mutu pendidikan, baik dari segi proses maupun hasil pendidikan.( Komarudin ( , shn ;2)


Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: