Tinggalkan komentar

Peningkatan Kreativitas Siswa Melalui Permainan Cipta Lagu Dalam Pembelajaran Seni Budaya Di Smp Nasima Semarang (P-120)

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Pembelajaran seni budaya mengembangkan semua bentuk aktifitas cita rasa keindahan yang meliputi kegiatan berekspresi, bereksplorasi, berkreasi dan apresiasi dalam bahasa, rupa, bunyi, gerak, tutur dan peran. Sedangkan tujuan pendidikan seni untuk mengembangkan sikap toleransi, demokratis, beradab, dan hidup rukun dalam masyarakat yang majemuk, mengembangkan ketrampilan dan menerapkan teknologi dalam berkarya dan menampilkan karya seni rupa, seni musik, tari dan peran, dan menanamkan pemahaman tentang dasar-dasar dalam berkesenian (Sujadmiko,2004:26 )

Seiring dengan program KTSP ( Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ) yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara bersama untuk memenuhi kebutuhan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan berdasarkan kebijakan pendidikan nasional (Raharjo,
2003:5). Berkaitan dengan KTSP tersebut sekolah perlu mencari program- program yang sesuai di lembaganya, dan guru punya wewenang yang penuh untuk pengembangan dirinya termasuk SDMnya.
Tujuan akhir dalam proses pembelajaran seni budaya khususnya musik adalah mampu berapresiasi terhadap seni , mampu berekspresi dan berkreasi. Banyak manfaat yang diperoleh jika siswa mampu berkreasi , dan berekspresi yaitu kreativitas siswa akan semakin berkembang, nilai estetika akan bertambah dan kematangan bersikap khususnya dalam melestarikan seni budaya.

Menurut Edgar Dale metode yang menarik untuk siswa adalah pengalaman langsung ( Cone of experience ). Pengalaman belajar dalam ruangan (indoor) maupun di luar ruangan (outdoor) dan tidak meninggalkan karakteristik mata pelajaran ( Sukarman, 2003:16) . Maka berdasarkan pernyataan tersebut, upaya mengemas proses pembelajaran yang mengajak siswa untuk berinteraksi aktif dalam mata pelajaran seni budaya khususnya musik, menjadi tantangan bagi kalangan pendidik , khususnya guru musik itu sendiri.

Model pembelajaran yang inovative tentu tidak mengesampingkan trend pada masa tertentu , karena dimensi apresiasi seni anak cenderung berubah menurut usianya ( Mack, 2002:64 ). Semakin guru bisa memahami trend musik anak, perhatian dan motivasi anak juga semakin bertambah. Walaupun ini bukan utama, namun bisa menjadi daya tarik tersendiri disamping meletakkan dasar – dasar musik.

Menurut Toeti Heraty kreativitas adalah suatu fungsi biologis manusia yang berbeda dengan mahkluk-mahkluk lain seperti hewan, kreativitas didefinisikan sebagai retrukturasi kreatif, kemampuan seseorang mengatasi masalah atau tatanan lama dan menggantinya dengan tatanan baru (Martopo , 2006 : 216)

Model pembelajaran ” dengar-lihat-kerjakan” lebih berpusat pada guru atau teacher centered . Model yang berkaitan dengan kreativitas, inovasi pembelajaran, perlu ditekankan model pembelajaran yang berpusat pada siswa.

Menurut Bruce Joyce dan Masha Weil dalam bukunya Models of Teaching (Masunah, 2002:3) mengemukakan empat rumpun model mengajar yakni,
(1). Information procesing model yang berorientasi pada pengembangan kemampuan peserta didik dalam mengolah dan menguasai informasi yang diterima mereka dengan menitik beratkan pada aspek intelektual akademis. (2). Personal models yang berorientasi pada pengembangan diri baik secara individu maupun hubunganya dengan lingkungan . Menitik beratkan aspek emosional.
(3). Social interaction models berorientasi pada pengembangan peserta didik dalam bekerja sama dengan orang lain, berperan aktif dalam proses demokratis dan bekerja dengan produktif di dalam masyarakat dengan menitik beratkan pada kehidupan sosial.
(4). Behaviorial models yang berorientasi pada kemampuan menguasai fakta, konsep, ketrampilan, dan kemampuan mengurangi kecemasan serta meningkatkan ketenangan dengan menitikberatkan pada aspek perbuatan perilaku yang dapat diamati.

Untuk pelajaran seni nampaknya tidak hanya dengan satu model pembelajaran, tapi dengan menggabungkan beberapa model, karena seni berkaitan dengan keadaan personal, hubungan sosial, dan budaya yang mesti dikembangkan dalam diri siswa. Pembelajaran seni budaya lebih ditekankan pada praktek, seperti yang tertuang dalam bahan kajian seni musik yaitu mampu mengekspresikan diri dan berkreasi melalui penampilan dan pergelaran musik nusantara dan manca negara secara vokal maupun instrumental.

Maka upaya mencari metode pembelajaran yang baik adalah salah satu usaha untuk mencapai tujuan. Menurut (Sudjana,1989) dalam (Candra,2006:61) metode mengajar adalah cara yang digunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pembelajaran.

Menyimak kurikulum 2006 pada standart kompetensi kelas VII, VIII, IX, terdapat materi berkreasi seni. Pada kompetensi dasar disebutkan peserta didik mampu mengaransir / merancang karya musik sederhana non tradisi daerah setempat. Dari kompetensi dasar tersebut peserta didik dituntut untuk bisa berkarya seni walaupun masih sederhana. Tentu untuk mewujudkan itu semua seorang guru harus belajar bagaimana menciptakan karya musik. Padahal untuk menciptakan sesuatu yang baru atau lagu yang baru adalah pekerjaan tidak mudah. Maka perlu dibangun strategi, metode belajar yang menarik agar peserta didik mampu berkarya seni atau mampu menciptakan lagu baru baik secara klasikal, kelompok dan individu.

Menurut beberapa literatur antara lain (Uqshari, Melejit DenganKreatif : 2005) , (Sugiyanto, Kesenian , 2004 ), (internet, Cipta Lagu, 2007)dan pengalaman penulis ada beberapa cara untuk menciptakan karya cipta lagu yaitu ;
(1). Konsentrasi.
Sebuah lagu yang baik adalah sebuah lagu yang mampu mengembangkan daya imajinasi, daya berpikir dan dapat menyalurkan emosi serta kemampuan aspek sosial (internet “ AT. Mahmud” Tokoh Indonesia,16 Juni 2007,http: // http://www.tokoh indonesia.com).
Setiap hari diperdengarkan musik hingga masuk alam bawah sadar, kemudian dalam masa belajar nada-nada itu tersimpan, ketika proses kreatif muncul ide-ide yang lama tersimpan muncul semua ( internet,”
Dhani Dewa “,17 Juni 2007,http: // http://www.figurpublik.com).

Untuk bisa memahami imajinasi salah satunya dengan konsentrasi. Untuk memunculkan kembali ide juga dengan konsentrasi. Kalau diterapkan dalam pembelajaran di kelas, caranya adalah siswa membayangkan suatu obyek kemudian secara sadar diungkapkan dengan suara secara berulang- ulang demikian seterusnya sehingga menemukan melodi-melodi baru untuk menyusun lagu. Tapi dalam metode ini siswa akan kehilangan memori disaat konsentrasi dihentikan. Dan sulit sekali mencari lagu yang telah tersusun dalam konsentrasi imaginasi tadi.
Daya imajinasi mutlak diperlukan bagi seorang yang kreatif. Imajinasi pada umumnya diperlukan untuk suatu penggambaran ke depan
( Soenarno, 2006: 37).

(2). Membuat syair kemudian menulis notasi atau sebaliknya.

Menulis lagu harus benar-benar dalam keadaan tenang, setelah tahu irama lagu dan notasi baru mencari liriknya (Internet,“Melly”, figurpublik,16 Juni 2007,http:// http://www.figurpubik.com ).
Sebuah lagu dapat dibuat dengan menuliskan notasi terlebih dahulu . Tetapi akan lebih mudah jika kita mendahulukan pembuatan teks/syair (Sugiyanto,2004:135). Menurut pendapat diatas, dalam menulis lagu boleh ditulis notasi terlebih kemudian liriknya atau lirik dulu baru notasinya.
Dalam pembelajaran di kelas, siswa membuat syair beberapa bait kemudian menuliskan notasinya. Hal ini bisa dilakukan kalau siswa sudah punya dasar yang kuat tentang solfegio atau membaca notasi musik. Padahal rata-rata siswa SMP belum bisa membaca not angka maupun not balok, karena pada waktu di sekolah dasar rata – rata belum diberi pelajaran tentang membaca not angka maupun not balok.

(3). Recording

Pada era modern dimana teknologi semakin memasyarakat, di manapun, kapanpun seseorang dapat menuangkan ide lagu baru dengan direkam terlebih dahulu, kemudian hasil rekaman itu disusun kembali hingga terbentuklah lagu baru. Kendala yang dihadapi adalah tidak setiap waktu dan kesempatan membawa alat rekam, Padahal ide, inspirasi itu bisa datang setiap saat tanpa mengenal tempat dan waktu.

(4). Ilham

Seorang composser (pencipta lagu) tidak menghendaki lagu itu hadir, tapi nada-nada terus datang dalam wilayah imaginasinya sehingga terciptalah sebuah karya. Kendala yang dihadapi adalah tidak semua orang punya talent yang demikian, apalagi siswa yang kemampuan dasar musikalnya masih dalam tahap belajar. Menurut (M.Echols ,1992:324) ilham adalah inspiration, tiba-tiba mendapatkan sesuatu untuk melakukan sesuatu menurut bisik-bisik hatinya.

Pembelajaran seni budaya didalamnya terdapat materi seni musik yang merupakan bagian dari pendidikan yang diajarkan di SMP Nasima. Seni musik merupakan pelajaran yang menarik siswa, terbukti dengan keseriusan lembaga tersebut mengelola karya musik dalam sebuah album musik . Sampai saat ini SMP Nasima sudah memilki 3 album musik yang berisi ekspresi siswa dan guru – guru di SMP Nasima.

Tidak hanya itu, prestasi musik dan vokal juga menonjol diantaranya yaitu pada tahun 2004 juara 2 lomba vokal se kota Semarang yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang atas nama Lavenia Disa Winona, pada tahun 2005 juara 1 lomba band pelajar tingkat kota Semarang di Sri Ratu Peterongan dan pada tahun 2007 juara 2 lomba band sekota semarang yang diadakan SMA Sultan Agung 1 Semarang. Pada kegiatan lomba tersebut sekaligus meraih the best vokal atas nama Kartika Dewi dan the best gitar atas nama Imam Agung.

Dari berbagai prestasi yang diraih oleh siswa-siswi SMP Nasima Semarang, menjadi perhatian YPIN (Yayasan Pendidikan Islam Nasima) memberikan fasilitas yang memenuhi standart yaitu dibangunnya studio musik Nasima.

Berkaitan dari kondisi tersebut diatas, maka perlu ada upaya pengembangan yang terus menerus sehingga prestasi akademik dan non akademik dapat diraih / meningkat. Disamping perhatian, pembinaan yang kontinyu maka perlu kajian akademis yang akurat melalui penelitian dalam bentuk penulisan skripsi tentang pembelajaran seni budaya khususnya seni musik pada model permainan cipta lagu. Agar suatu saat nanti SMP Nasima memiliki album musik yang lagu-lagunya semua hasil karya siswa.

Salah satu faktor yang sering dianggap menurunkan motivasi siswa remaja untuk belajar adalah materi pelajaran itu sendiri dan guru yang menyampaikan pelajaran itu (Sarwono, 2006:122). Menimbang dari berbagai alasan mengenai pembelajaran, maka inovasi pembelajaran merupakan hal penting untuk diterapkan dalam proses belajar mengajar.

Inovasi pembelajaran sangat diperlukan dalam rangka meningkatkan efisiensi, relevansi, kualitas dan efektivitas. Inovasi yang dilakukan diharapkan peserta didik menjadi manusia yang aktif, kreatif dan terampil memecahkan masalahnya sendiri (Yudrik, 2003:23). Inovasi yang dilakukan dalam pembelajaran seni budaya di SMP Nasima adalah selaras dengan learning by doing yaitu belajar sambil bermain.

Menurut (Santoso, 2002:147) kreativitas bagi anak-anak adalah suatu permainan. Sejak masih bayi, mereka telah mengembangkan berbagai macam permainan kreatif. Oleh karena itu metode pembelajaran dengan permainan adalah langkah awal menuju pencapaian kreativitas siswa.

Penerapan belajar sambil bermain tersebut terdapat pada pembelajaran seni budaya khususnya musik dalam KD peserta didik mampu mengapresiasi dan berkarya seni daerah setempat. Agar siswa dapat berkreasi karya seni diperlukan metode yang relevan dengan kondisi siswa. Salah satunya adalah permainan cipta lagu. Metode ini adalah upaya bersama membangun nada menjadi sebuah lagu baru. Terciptanya lagu baru dari proses pembelajaran di kelas merupakan bentuk kreativitas siswa.
 
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

 

Tinggalkan komentar

Perbedaan Hasil Belajar Antara Pendekatan Kontekstual Dengan Konvensional Pada Sub Konsep Keanekaragaman Hewan Di Kelas Vii Smp Negeri I Sragen Tahun Ajaran 2005/2006 (P-119)

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi peranannya di masa akan datang. Pendidikan dapat dipahami sebagai suatu proses pertumbuhan yang menyesuaikan dengan lingkungan dan suatu pembentukan kepribadian dan kemampuan anak dalam menuju ke arah kedewasaan. Proses pembelajaran di lingkungan sekolah (pendidikan formal) melibatkan berbagai komponen. Jika salah satu komponen tidak terpenuhi maka proses pembelajaran kurang berhasil. 

Dalam proses pembelajaran biologi melibatkan banyak unsur yang saling berikatan dan menentukan keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Unsur-unsur tersebut adalah pendidik (guru), peserta didik (siswa), kurikulum, pengajaran, tes dan lingkungan. Guru dan siswa merupakan subjek pendidikan yang sangat menentukan dalam konteks pengembangan di sekolah. Sebaik apapun kurikulum, jika motivasi guru dan siswa kurang memadai maka proses pembelajaran seperti yang diharapkan tidak akan terjadi.
Pembelajaran yang dilaksanakan dapat diketahui hasilnya dengan diadakan evaluasi hasil belajar yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Evaluasi hasil belajar bertujuan mengetahui kemajuan-kemajuan dan kelemahan siswa, guru, proses belajar mengajar beserta sebab akibatnya, sehingga siswa dapat mengetahui langkah apa yang akan diambil untuk meningkatkan hasil belajarnya. Dalam proses belajar mengajar dapat digunakan banyak pendekatan pembelajaran. Agar diperoleh hasil yang optimal diperlukan pendekatan yang tepat untuk mengajarkan suatu pengetahuan atau materi sehingga hasilnya sesuai dengan yang diharapkan.

Pendekatan kontekstual merupakan salah satu pendekatan yang tepat untuk pelaksanaan Pembelajaran Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan sesuai untuk kurikulum 2004. Kompetensi berarti siswa mempunyai pengetahuan, mempunyai keterampilan, dan mempunyai nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Untuk menjadikan siswa yang berkompeten diperlukan pembelajaran yang baik tidak hanya dengan pembelajaran konvensional. Pengajaran biologi kelas VII konsep keanekaragaman hewan bertujuan untuk menerapkan konsep dasar-dasar klasifikasi serta tujuan klasifikasi untuk mengelompokkan makhluk hidup. Pemahaman terhadap konsep keanekaragaman hewan menyangkut ciri-ciri umum vertebrata dan invertebrata, contoh-contoh, bagian-bagian tubuh, serta penggunaan kunci determinasi sederhana. Keanekaragaman hewan meliputi semua hewan vertebrata dan invertebrata terdapat dalam jumlah yang sangat besar dan menunjukkan keanekaragaman yang sangat besar pula. Diperlukan kegiatan klasifikasi yaitu kegiatan pengelompokan dan pemberian nama setiap kelompok yang terbentuk serta memerlukan pendekatan dan media pembelajaran yang sesuai untuk mempermudah mempelajarinya (Suroso,2003).

Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan materi yang diajarkan dengan lingkungan sekitar siswa dan mendorong siswa untuk menghubungkan antara pengetahuan yang mereka peroleh dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Dengan konsep ini diharapkan proses pembelajaran menjadi lebih bermakna karena berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa yaitu mengalami atau mengamati sendiri, tidak hanya transfer pengetahuan dari guru ke siswa. (Anonim, 2002)

Berdasarkan hasil pengamatan pembelajaran di SMP Negeri 1 Sragen ini menunjukkan bahwa pembelajaran masih didominasi ceramah sehingga hasil belajar kurang sesuai dengan apa yang diharapkan, apalagi jika dikaitkan dengan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan belajar mengajar yang cenderung bersifat hafalan tanpa adanya pemahaman yang baik. Kebanyakan siswa mempunyai kemampuan mengahafalkan materi yang diterima dengan baik tetapi mereka kurang memahami secara lebih dalam apa yang mereka hafalkan. Sebagian besar siswa belum mampu menghubungkan materi yang dipelajari dengan pengetahuan secara abstrak (hanya membayangkan) tanpa mengalami atau melihat sendiri. Padahal siswa memerlukan konsep-konsep yang berhubungan dengan lingkungan sekitarnya karena pembelajaran tidak hanya berupa transfer pengetahuan tetapi sesuatu yang harus dipahami oleh siswa yang akan diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Belajar mereka akan lebih bermakna jika siswa mengalami sendiri apa yang dipelajari daripada hanya mengetahui secara lisan saja.

Berdasarkan nilai ulangan harian biologi yang pertama untuk kelas VII A sampai VII D di SMP N 1 Sragen mempunyai tingkat keaktifan dan hasil belajar masih dibawah standar yaitu 7,5 (untuk Sekolah Standar Nasional). Hal ini dapat dilihat pada nilai rata-rata ulangan harian sebesar 6,3 sampai 6,9. Hasil belajar ini menunjukkan bahwa tingkat pemahaman siswa masih perlu ditingkatkan. Proses pembelajaran Biologi yang dilakukan di SMP N 1 Sragen masih didominasi metode ceramah tanpa didukung pendekatan pembelajaran lain atau media pembelajaran yang bervariasi. Proses belajar mengajar yang menggunakan pendekatan kontekstual dengan dibantu media asli belum pernah dilakukan pada konsep keanekaragaman hewan, sehingga manfaat penggunaan pendekatan kontekstual terhadap peningkatan hasil belajar biologi belum pernah diketahui. 

Hasil belajar siswa yang rendah yaitu dibawah 7,5 (untuk Sekolah Standar Nasional) disebabkan berbagai faktor antara lain : untuk pokok bahasan Keanekaragaman Hewan materi terlalu banyak sehingga sulit dipahami karena terbatasnya media, guru kurang memotivasi siswa karena dalam KBM sebagian besar masih didominasi dengan ceramah sehingga pembelajaran kurang menarik, dalam pembelajaran dengan pendekatan konvensional menyebabkan siswa kurang dilibatkan secara aktif sehingga minat dan motivasi siswa juga kurang, dan pendekatan pembelajaran kurang tepat dan materi kurang mengkaitkan dengan kehidupan sehari-hari. 

Memadukan materi pelajaran dengan konteks keseharian siswa akan sangat berarti dalam proses pembelajaran. Pembelajaran kontekstual menciptakan kelas yang didalamnya siswa akan terlibat lebih aktif, dan bukan hanya sebagai pengamat yang pasif, sehingga proses belajar siswa akan dapat lebih optimal dan hasil belajar juga meningkat (Anonim, 2002). Penelitian ini difokuskan pada perbedaan hasil belajar antara pendekatan kontekstual dan pendekatan konvensional pada sub konsep keanekaragaman hewan di kelas VII SMP N 1 Sragen.
 
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

 

Tinggalkan komentar

Pendugaan Hubungan Antara Kurang Gizi Pada Balita Dengan Kurang Energi Protein Ringan Dan Sedang Di Wilayah Puskesmas Sekaran Kecamatan Gunungpati Semarang Tahun 2005 (P-118)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Alasan Pemilihan Judul
Salah satu masalah pokok kesehatan di negara sedang berkembang adalah masalah gangguan terhadap kesehatan masyarakat yang disebabkan oleh kekurangan gizi. Masalah gizi di Indonesia masih didominasi oleh masalah Kurang Energi Protein (KEP), Anemia zat Besi, Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), dan Kurang Vitamin A (KVA). Penyakit kekurangan gizi banyak ditemui pada masyarakat golongan rentan, yaitu golongan yang mudah sekali menderita akibat kurang gizi dan juga kekurangan zat makanan (Syahmien Moehji, 2003:7). Kebutuhan setiap orang akan makanan tidak sama, karena kebutuhan akan berbagai zat gizi juga berbeda. Umur, Jenis kelamin, macam pekerjaan dan faktor-faktor lain menentukan kebutuhan masing-masing orang akan zat gizi. Anak balita (bawah lima tahun) merupakan kelompok yang menunjukkan pertumbuhan badan yang pesat, sehingga memerlukan zat-zat gizi yang tinggi setiap kilogram berat badannya. Anak balita ini justru merupakan kelompok umur yang paling sering dan sangat rawan menderita akibat kekurangan gizi yaitu KEP.
KEP adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi zat energi dan zat protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG) dan atau gangguan penyakit tertentu. Orang yang mengidap gejala klinis KEP ringan dan sedang pada pemeriksaan anak hanya nampak kurus karena ukuran berat badan anak tidak sesuai dengan berat badan anak yang sehat. Anak dikatakan KEP apabila berat badannya kurang dari 80% indeks berat badan menurut umur (BB/U) baku WHO-NCHS,1983. KEP ringan apabila BB/U 70% sampai 79,9% dan KEP sedang apabila BB/U 60% sampai 69,9%, % Baku WHO-NCHS tahun 1983 (I Dewa Nyoman Supariasa, 2001:18,131).

Kekurangan gizi merupakan salah satu penyebab tingginya kematian pada bayi dan anak. Apabila anak kekurangan gizi dalam hal zat karbohidrat (zat tenaga) dan protein (zat pembangun) akan berakibat anak menderita kekurangan gizi yang disebut KEP tingkat ringan dan sedang, apabila hal ini berlanjut lama maka akan berakibat terganggunya pertumbuhan, terganggunya perkembangan mental, menyebabkan terganggunya sistem pertahanan tubuh, hingga menjadikan penderita KEP tingkat berat sehingga sangat mudah terserang penyakit dan dapat berakibat kematian (Solihin Pudjiadi, 2003:124).

Di Indonesia angka kejadian KEP berkisar 10 % dari 4.723.611 balita menurut laporan Depkes RI tahun 2003, di Jawa Tengah sendiri angka penderita KEP yang ada yaitu sebesar 12,75 % dari 336.111 balita yang diukur menurut Dinkes Prop Jateng tahun 2004, di kota Semarang angka KEP yaitu 11,55 % dari 6.671 balita menurut laporan DKK Semarang tahun 2004, di Puskesmas Sekaran yang membawahi 5 kelurahan yaitu kelurahan Ngijo, kelurahan Patemon, kelurahan Kalisegoro, kelurahan Sekaran dan Kelurahan Sukorejo angka kasus KEP yang ada yaitu 9,82 % dari 576 balita menurut laporan Puskesmas Sekaran tahun 2005. Oleh karena itu, usaha-usaha perbaikan gizi masyarakat di negara ini harus diprioritaskan guna mengurangi angka penderita yang ada dan untuk dijadikan bagian dari program pembangunan nasional.

Faktor penyebab langsung terjadinya kekurangan gizi adalah ketidakseimbangan gizi dalam makanan yang dikonsumsi dan terjangkitnya penyakit infeksi. Penyebab tidak langsung adalah ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuhan anak dan pelayanan kesehatan. Ketiga faktor tersebut berkaitan dengan tingkat pendidikan, pengetahuan dan ketrampilan keluarga serta tingkat pendapatan keluarga (I Dewa Nyoman Supariasa, 2001:13). Faktor ibu memegang peranan penting dalam menyediakan dan menyajikan makanan yang bergizi dalam keluarga, sehingga berpengaruh terhadap status gizi anak (Soekirman, 2000:26).

Dari alasan tersebut di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian untuk mengetahui hubungan antara kurang gizi pada balita dengan KEP ringan dan sedang di wilayah Puskesmas Sekaran Kecamatan Gunungpati Semarang.
 
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

 

Tinggalkan komentar

Kesiapan Guru Fisika Smp Dalam Melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Di Kabupaten Purbalingga Tahun Pelajaran 2006/2007 (P-117)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Perwujudan masyarakat yang berkualitas merupakan tanggung jawab pendidik yang sekaligus juga menjadi tanggung jawab pemerintah. Tanggung jawab terfokus pada upaya mempersiapkan peserta didik yang mempunyai keunggulan, kreatifitas, mandiri, dan professional dalam bidangnya masing- masing. Upaya meningkatkan kualitas pendidikan ini terus menerus dilakukan oleh pemerintah guna memenuhi tanggung jawab tersebut.

Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah dengan memperbaiki kurikulum. Seperti yang telah dilakukan pemerintah saat ini yaitu memperbaiki Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pada dasarnya kurikulum ditentukan oleh guru (tenaga kependidikan). Guru turut serta menyusun kurikulum, duduk dalam suatu panitia pengembang kurikulum, atau memberikan masukan kepada panitia pengembang kurikulum (Hamalik, 2005: 64).

Berdasarkan pernyataan di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa guru dituntut untuk lebih kreatif dalam melakukan pembelajaran. Guru juga harus mampu melaksanakan kurikulum yang telah ditetapkan agar penyampaian materi pelajaran efektif. Pelaksanaan kurikulum di sekolah yang dilakukan oleh guru ini berkaitan dengan pembuatan silabus dan rencana pembelajaran dimana penguraian materi dan proses pembelajaran ditentukan oleh guru. Sistem penilaian yang menjadikan peserta didik mampu mendemonstrasikan pengetahuan dan ketrampilan sesuai dengan standar yang ditetapkan dengan mengintegrasikan life skill juga harus ditetapkan oleh guru.

Mulai tahun pelajaran 2006/2007, Depdiknas meluncurkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) atau akrab disebut Kurikulum 2006. KTSP memberi keleluasaan penuh setiap sekolah mengembangkan kurikulum dengan tetap memperhatikan potensi sekolah dan potensi daerah sekitar (M. Basuki, http://www.kompas.com/kompas-cetak/0609/23/didaktika/2971951.htm). KTSP ini mulai diberlakukan pada tahun ajaran 2006/2007 disetiap jenjang pendidikan termasuk juga di tingkat SMP. Pada dasarnya pelaksanaan KTSP yang paling utama adalah guru, karena guru merupakan “the key person” keberhasilan pelaksanaan pembelajaran. Guru adalah orang yang diberi tanggung jawab untuk mengembangkan dan melaksanakan kurikulum hingga mengevaluasi ketercapaiannya (Mantovani 2007:6). Mengingat peran guru sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan KTSP ini maka perlu adanya persiapan-persiapan tertentu agar nantinya guru mampu melaksanakannya dengan baik. Termasuk disini adalah persiapan guru fisika di SMP Negeri se Kabupaten Purbalingga.

Berdasarkan pernyataan di atas, maka peneliti tertarik untuk melaksanakan penelitian dengan judul “KESIAPAN GURU FISIKA SMP DALAM MELAKSANAKAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) DI KABUPATEN PURBALINGGA TAHUN PELAJARAN2006/2007”.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini
Tinggalkan komentar

Survei Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Siswa Kelas Xi Dalam Mengikuti Pelajaran Pendidikan Jasmani Di SMA Muhammadiyah 1 Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007 (P-116)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Di Indonesia, mata pelajaran jasmani beberapa kali berganti nama. Nama terakhir adalah Pendidikan Jasmani tanpa ditambah kesehatan. Perubahan nama ini tidak berarti menghilangkan perhatian terhadap kesehatan siswa. Kesehatan siswa tetap menjadi perhatian utama, tetapi kesehatan siswa merupakan dampak dari pendidikan jasmani. Nama pendidikan jasmani lebih menegaskan bahwa mata pelajaran ini menggunakan aktivitas jasmani sebagai media untuk tujuan pembelajarannya. (Depdikbud, 2003:2).
 
Melalui pendidikan jasmani diharapkan kesehatan siswa tetap terjaga. Seorang siswa yang mempunyai tingkat kesehatan jasmani yang baik akan dengan mudah melakukan aktivitas belajar dengan lancar. Dengan demikian motivasi mengikuti pelajaran akan meningkat karena jasmani yang baik.
Sedangkan motivasi itu sendiri menurut Oemar Hamalik (2005:106), adalah suatu perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan.
 
Motivasi mendorong seseorang melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan yang ingin dicapainya. Disini motivasi adalah sangat penting, motivasi merupakan konsep yang menjelaskan alasan seseorang berperilaku. Apabila terdapat dua anak yang memiliki kemampuan sama dan memberikan peluang dan kondisi yang sama untuk mencapai tujuan, kinerja dan hasil yang dicapai oleh anak yang termotivasi akan lebih baik dibandingkan dengan anak yang tidak termotivasi. Motivasi menentukan tingkat berhasil atau gagalnya kegiatan belajar siswa. Belajar tanpa motivasi sulit untuk mencapai keberhasilan secara optimal (Oemar Hamalik,2005:108).

Hal ini dapat diketahui dari pengalaman dan pengamatan sehari-hari. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa apabila anak tidak memiliki motivasi belajar, maka tidak akan terjadi kegiatan belajar pada diri anak tersebut. Walaupun begitu, hal itu kadang-kadang menjadi masalah karena motivasi bukanlah suatu kondisi. Apabila motivasi anak itu rendah, umumnya diasumsikan bahwa prestasi yang bersangkutan akan rendah dan besar kemungkinan ia tidak akan mencapai tujuan belajar. Bila hal ini tidak diperhatikan, tidak dibantu, siswa gagal dalam belajar. (Catharina, 2004:112).

Pada kenyataannya motif setiap orang dalam belajar dapat berbeda satu sama lain. Ada siswa yang rajin belajar karena ingin menambah ilmu pengetahuan, adapula siswa yang belajar karena takut dimarahi oleh orang tua. Adanya perbedaan motivasi tersebut dipengaruhi oleh motivasi instrinsik yang muncul dalam diri sendiri tanpa dipengaruhi oleh sesuatu diluar dirinya. Dan motivasi ekstrinsik yang muncul dalam diri seseorang karena adanya pengaruh dari luar seperti: guru, orang tua dan lingkungan sekitar.

Seseorang yang motivasinya besar akan menampakkan minat, perhatian, konsentrasi penuh, ketekunan tinggi, serta berorientasi pada prestasi tanpa mengenal perasaan bosan, jenuh apalagi menyerah. Sebaliknya siswa yang rendah motivasinya akan terlihat acuh tak acuh, cepat bosan, mudah putus asa dan berusaha menghindar dari kegiatan. Dalam kaitannya dengan kegiatan, motivasi erat hubungannya dengan aktualisasi diri sehingga motivasi yang paling mewarnai kebutuhan siswa dalam belajar adalah motivasi belajar untuk mencapai prestasi yang tinggi.

Berdasarkan pengamatan saat pengalaman di lapangan (PPL), pendidikan jasmani merupakan mata pelajaran yang paling ditunggu-tunggu oleh siswa. Hal ini dikarenakan siswa merasa jenuh dan pikirannya sudah terlalu tegang akibat melakukan proses belajar mengajar di kelas. Biasanya pelajaran yang dilakukan di dalam kelas memerlukan konsentrasi yang tinggi, suatu perhatian serius akan melelahkan siswa dalam berpikir, terutama mata pelajaran yang eksak seperti: matematika, fisika, kimia, dan biologi.

Tentunya mata pelajaran ini banyak memeras pikiran didalam memahaminya sehingga ketika akan ganti pelajaran pendidikan jasmani siswa ingin rasanya bel pergantian pelajaran cepat-cepat berbunyi. Sewaktu bel pergantian pelajaran berbunyi maka siswa merasa senang, secara tidak langsung siswanya langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian olahraga dan langsung menuju ke lapangan. Siswa akhirnya melampiaskan kejenuhannya kedalam pelajaran penjas akibatnya mereka antusias dalam mengikuti pelajaran penjas.

Dalam hal ini siswa termotivasi mengikuti pelajaran penjas tentunya disebabkan oleh beberapa banyak faktor diantaranya: yang pastinya pendidikan jasmani merupakan masuk dalam kurikulum kelas XI SMA sebagai syarat untuk naik kelas yang tercantum dalam nilai rapot. Ada yang ingin mendapat nilai plus, ada yang ingin menjaga kesehatan badan, ada juga yang menyalurkan hobinya sehingga ingin menjadi seorang atlet. Seseorang melakukan aktivitas karena didorong oleh adanya faktor-fakor, kebutuhan biologis, insting dan mungkin unsur-unsur kejiwaan yang lain serta adanya pengaruh perkembangan budaya manusia. (Sardiman A. M, 2006:77).

Faktor lain ini terlihat dari setiap bertemu dengan guru penjasnya, siswa selalu menanyakan materi pelajaran penjas apa yang nantinya akan disampaikan oleh guru penjasnya. Dan biasanya siswa meminta materi permainan bola voli dikarenakan siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 1 Semarang banyak yang dari atlet bola voli. Setiap materi permainan bola voli mereka begitu termotivasi mengikuti pelajaran penjas begitu juga dengan materi penjas lainnya seperti: bola basket, atletik, dan senam. Jika masih ada waktu jam pelajaran yang tersisa akan diisi permainan bola voli oleh guru penjasnya. Didalam kegiatan belajar-mengajar peranan motivasi baik instrinsik maupun ekstrinsik sangat diperlukan. Dengan motivasi, pelajar dapat mengembangkan aktivitas dan inisiatif, dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melakukan kegiatan belajar. (Sardiman A. M, 2006:91).

Sekolah SMA Muhammadiyah 1 Semarang terletak di jalan Tentara Pelajar no. 91 Semarang tepat di pinggir jalan raya sehingga lokasinya mudah dijangkau oleh masyarakat sekitar. Sekolah ini hanya memiliki satu tenaga guru penjas dan itupun mengampu tiga kelas yaitu kelas X, XI, XII. Didukung dengan guru penjas yang basiknya dibola voli dan sarana dan prasarana bola yang memadahi akhirnya sekolah ini sering menjuarai dikejuaraan bola voli antar SMA di Semarang. Sedangkan sekolah ini terdiri dari kelas X, XI, XII. Berhubung kelas yang tersedia hanya 8 kelas dan sedang lagi tahap pembangunan untuk 4 kelas berikutnya, maka kelas X dan XII berangkatnya pagi sedangkan yang kelas XI berangkatnya siang jam 12.30 WIB bergantian dengan kelas XII. Sedangkan jam pelajaran pendidikan jasmani dilaksanakan pada sore hari jam 15.30-17.30 WIB itu untuk 4 jam pelajaran, hal tentunya menjadikan suasana menjadi lebih teduh dibandingkan dengan olahraga dipagi hari semakin lama semakin panas. Keadaan ini menguntungkan bagi siswa-siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 1 Semarang dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengikuti pelajaran pendidikan jasmani dengan antusias. Motivasi menentukan tingkat berhasil atau gagalnya kegiatan belajar siswa. Belajar tanpa motivasi sulit untuk mencapai keberhasilan secara optimal (Oemar Hamalik, 2005:108).

Akan tetapi sekolah SMA Muhammadiyah sendiri memiliki sarana dan prasarana yang kurang lengkap. Halaman yang sempit menjadikan sekolah tidak mempunyai lapangan bola voli, sepak bola maupun bola basket. Kalau ada lapangan bola basket hanya setengahnya itupun tidak ada garisnya dan sekaligus tempat itu dijadikan sebagai tempat parkir sepada motor. Ketika pelajaran penjas rawan bagi keselamatan siswa selain itu bolanya juga bisa mengenahi sepeda motor yang berada disitu. Ada lapangan olahraga yang letaknya jauh dari sekolah dan untuk menempuh kesana dengan berjalan memakan waktu sekitar 10 menit. Hal ini mengakibatkan jam pelajaran penjas menjadi berkurang 20 menit pulang pergi perjalanan ke lapangan. Lapangan itu juga digunakan oleh 4 sampai 5 sekolah sehingga sering penuh lapangannya.

Melihat kondisi fisik sekolah yang sedemikian rupa tentunya siswa dituntut untuk lebih berperan aktif dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani salah satunya adalah dengan memiliki motivasi dalam belajar, khususnya pelajaran pendidikan jasmani. Motivasi disini memiliki peranan yang begitu penting yaitu: dapat menyadarkan kedudukan awal belajar, proses dan hasil akhir serta mengarahkan kegiatan belajar siswa. Dengan motivasi siswa dapat terdorong perilakunya untuk mencapai tujuan hasil belajar yang ingin dicapai.
Berdasarkan uraian diatas, peneliti ingin meneliti seberapa tinggi faktor- faktor yang mempengaruhi motivasi siswa kelas XI dalam mengikuti pelajaran pendidikan jasmani di SMA Muhammadiyah 1 Semarang.
 
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

 

Tinggalkan komentar

Pengaruh Modal Kerja Dan Satuan Jam Kerja Terhadap Pendapatan Pada Industri Kecil Pengrajin Genting Di Desa Karangasem Kecamatan Wirosari Kabupaten Grobogan (P-115)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Sebagai usaha meningkatkan pendapatan individu pada umumnya dan masyarakat daerah Wirosari pada khususnya, penduduk di Desa Karangasem Kecamatan Wirosari Kabupaten Grobogan telah berusaha menciptakan lapangan kerja sendiri, yaitu dengan mendirikan industri kecil genting. Keberadaan industri kecil genting tersebut merupakan salah satu potensi yang memiliki peran yang strategis didalam memajukan roda perekonomian suatu bangsa.
 
Dalam kegiatan usahanya sebagian besar penduduk di Desa karangasem Kecamatan Wirosari adalah di sektor pertanian, baik sebagai buruh maupun sebagai petani. Karena hasil di sektor pertanian belum mencukupi kebutuhan hidup dan guna menambah pendapatan, maka mulailah mencari pekerjaan tambahan yaitu pada industri genting. Industri genting tersebut mampu menyerap tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan bagi penduduk setempat dan sekitarnya.
Industri kecil genting merupakan tulang punggung perekonomian penduduk Desa Karangasem dan sekitarnya yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Dengan adanya lapangan kerja tersebut sudah tentu akan memerlukan tenaga kerja yang dibutuhkan untuk menjalankan faktor-faktor produksi yang bersangkutan dan pada akhirnya dapat menyerap pengangguran di lingkungan sekitar Wirosari.

Dalam menjalankan usaha, baik perusahaan besar maupun kecil membutuhkan manajemen modal kerja yang efektif dan efisien. Modal kerja merupakan unsur terpenting untuk menjalankan kegiatan operasional perusahaan, yang digunakan untuk membiayai kegiatan perusahaan sehari-hari yang dapat berubah sesuai dengan keadaan perusahaan. Dengan adanya proses produksi yang lancar dapat menghasilkan produksi yang sesuai dengan harapan para pengusaha, sehingga dapat meningkatkan hasil penjualan dan pada akhirnya akan dapat meningkatkan pendapatan bagi perusahaan tersebut.

Menurut Kamaruddin (1997:1) modal kerja yang tepat merupakan syarat keberhasilan suatu perusahaan apalagi bagi perusahan kecil, di samping itu modal kerja sangat menentukan posisi likuiditas perusahaan dan likuiditas adalah persyaratan keberhasilan serta kontinuitas perusahaan.

Di samping itu, pengelolaan satuan jam kerja juga perlu mendapat perhatian. Pengelolaan satuan jam kerja yang belum maksimal akan mengakibatkan pemborosan (inefisiensi) dalam bekerja. Setiap pengusaha hendaknya dapat melaksanakan ketentuan waktu kerja yang berlaku pada perusahaan tesebut. Dalam usahanya memenuhi permintaan pasar, maka setiap pengusaha perlu mengatur waktu kerja para karyawan secara lebih tepat dan memperhatikan kualitas tenaga kerja guna menghasilkan produksi sesuai yang diharapkan perusahaan sehingga dapat meningkatkan penapatan para pengusaha tersebut.

Para pengrajin genting di Desa Karangasem dalam melakukan usahanya berusaha untuk dapat memenuhi kebutuhan konsumen dengan mengutamakan kualitas genting dan melakukan diversifikasi produk genting guna meningkatkan pendapatan. Namun, pendapatan dengan laba maksimal bukan satu-satunya tujuan utama didirikannya suatu usaha karena ada tujuan lain yaitu kontinuitas usaha dan perkembangan dalam usaha. Sedangkan pendapatan itu sendiri diterima dari berbagai factor yang mendukung diantaranya modal kerja dan tenaga kerja.

Dari hasil pengamatan yang dilakukan peneliti, bahwa rata-rata para industri kecil pengrajin genting di Desa Karangasem mengalami kekurangan modal kerja dan pengelolaan satuan jam kerja belum maksimal. Sehingga diperlukan pengelolaan yang baik atas modal kerja guna pengembangan usaha tersebut. Modal kerja dengan kuantitas yang besar dapat memberikan peluang jumlah keuntungan yang besar pula dibandingkan dengan keadaan jumlah modal yang relatif kecil. Dengan jumlah investasi rata-rata sebesar Rp 1.000.000,- pengrajin genting di Desa Karangasem mampu menghasilkan pendapatan rata-rata sebesar Rp 2.000.000,- per bulan. Hal ini menunjukkan bahwa permodalan yang cukup akan memberikan kesempatan yang lebih baik dalam memperoleh pendapatan.

Para pengrajin genting yang ada di Desa Karangasem Kecamatan Wirosari Kebupaten Grobogan selalu berpikir bagaimana cara mengelola modal kerja yang minimal agar bisa memanfaatkannya semaksimal mungkin guna memaksimumkan pendapatan. Mereka menggunakan modal kerja tersebut untuk pengadaan bahan baku (tanah liat), pembelian bahan penolong (kayu bakar, kulit randu), dan pembayaran upah tenaga kerja. Oleh karena itu diperlukan pengelolaan dan pengawasan yang baik atas penggunaan modal kerja. Hal ini dimaksudkan agar aktivitas sehari-hari dalam industri genting dapat berjalan lancar guna mempertahankan kontinuitas perusahaan.

Selain modal kerja, pengelolaan satuan jam kerja juga perlu diperhatikan karena pengelolaan satuan jam kerja pada industri genting belum maksimal. Hal ini disebabkan usaha industri kecil genting tersebut merupakan pekerjaan sampingan diluar pekerjaan sebagai petani. Sehingga pekerjaan sebagai pengrajin genting dilakukan secara part time disela-sela mereka menganggur. Oleh karena itu jumlah tenaga kerja, pengalaman, dan kualitas tenaga kerja juga harus diperhatikan karena hal tersebut akan sangat mempengaruhi operasional dan volume pendapatan industri genting di tengah ketatnya persaingan.

Sejumlah penelitian baru-baru ini mengungkapkan bahwa para pengusaha kecil ternyata mampu menyerap sekitar 40 persen hingga 70 persen angkatan kerja, serta menyumbangkan sepertiga dari total output nasional yang secara resmi tercatat. Mereka itu meliputi para petani kecil, pengrajin, tukang, pedagang kecil, dan asongan, yang kebanyakan beroperasi di sektor ekonomi informal, baik di perkotaan maupun di pedesaan (Todaro 2000:271). Usaha untuk mengembangkan industri kecil memang terus dilakukan, akan tetapi sekarang ini banyak hambatan yang mereka hadapi di tengah perekonomian yang semakin terpuruk.

Para pengrajin genting di Desa Karangasem dalam melakukan penerimaan tenaga kerja tidak melalui seleksi secara khusus, seperti misalnya tidak memperhatikan tingkat pendidikan, keahlian dalam mencetak genting. Sehingga dengan keahlian tenaga kerja yang rendah mengakibatkan kurangnya ketrampilan dalam melakukan kerja atau kesulitan dalam menghadapi suatu permasalahan. Hal ini tentunya juga akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas produksi genting yang pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat pendapatan industri genting tersebut.

Di Desa Karangasem Kecamatan Wirosari Kabupaten Grobogan mempunyai jumlah penduduk 8.628 jiwa terdiri dari 4.407 laki-laki dan 4.221 perempuan. Dengan melihat jumlah penduduk yang demikian besar maka tenaga kerja yang terserap pda industri kecil genting ini juga cukup tinggi. Dengan jumlah 149 unit usaha industri kecil pengrajin genting di Desa Karangasem mampu menyerap tenaga kerja sebesar 1.634 orang atau 38 persen dari jumlah keseluruhan tenaga kerja yang terserap (Monografi Desa 2004). Hal ini menunjukkan bahwa industri kecil genting menjadi tumpuan pendapatan bagi penduduk di Desa Karangasem KecamatanWirosari Kabupaten Grobogan.

Topik penelitian ini telah banyak dilakukan oleh para peneliti terdahulu. Beberapa diantaranya adalah Karsiyatun (2002) menyimpulkan “ada pengaruh antara pemanfaatan kredit Bank dengan peningkatan pendapatan pada industri kecil pengrajin genting di Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumen”, Mellinza Ratna Kartikasari (2003) menyimpulkan “ada pengaruh antara kredit Kopinkra Sutra Ayu dengan peningkatan pendapatan pengrajin bordir di Kecamatan Kedungwuni Kabupaten Pekalongan”, Dewi Wulandari (2004) menyimpulkan “ada pengaruh antara penggunaan kredit BPR-BKK Plupuh terhadap pendapatan pedagang kecil di Kecamatan Plupuh Kabupaten Sragen”. Berdasarkan beberapa hasil penelitian tersebut peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut dengan lokasi dan waktu yang berbeda dengan harapan dapat menemukan sesuatu yang baru, yang berbeda.

Mengingat sedemikian pentingnya kedudukan modal kerja dan pengelolaan satuan jam kerja dalam mempengaruhi pendapatan guna mempertahankan kontinuitas perusahaan dan perkembangan usaha agar dapat meningkatkan kesejahteraan hidup industri kecil pengrajin genting maka peneliti tertarik untuk mengangkat suatu penelitian dengan judul “Pengaruh Modal Kerja dan Satuan Jam Kerja Terhadap Pendapatan pada Industri Kecil Pengrajin Genting di Desa Karangsem Kecamatan Wirosari Kabupaten Grobogan”.
 
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

 

Tinggalkan komentar

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kapasitas Vital Paru Tukang Ojek Di Alun-Alun Ungaran Kabupaten Semarang Bulan Maret Tahun 2007 (P-114)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Transportasi memegang peranan penting dalam akitivitas manusia, baik transportasi udara, laut maupun darat. Kepadatan lalu-lintas alat transportasi berkaitan erat dengan jumlah penduduk dan ketersediaan sarana-prasarana. Lalu lintas dan angkutan jalan raya sebagai bagian dari sistem transportasi menempati posisi vital dan strategis dalam pembangunan nasional. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama dalam industri otomotif begitu pesat, sehingga laju pertambahan kendaraan juga meningkat dengan cepat yang mengakibatkan transportasi manusia dan barang dari suatu tempat ke tempat lain menjadi mudah dan cepat. Dalam kondisi ini persaingan di sektor transportasi menjadi semakin ketat dan untuk memenangkan persaingan diperlukan sumber daya manusia pekerja di sektor transportasi yang sehat dan produktif (Eryus AK.,2001:2).

Semakin banyak jumlah kendaraan bermotor yang digunakan per satuan waktu pada wilayah tertentu, semakin tinggi pencemaran udara. Pada tahun 2005 jumlah kendaraan bermotor di Jateng sekitar 3,8 juta unit yang terdiri dari sepeda motor mencapai 70 persen, sedangkan mobil 30 persen, bahkan jumlahnya tahun 2006 bakal bertambah lagi (www.kompas.com).
Para ahli memperkirakan sekitar 60-80% penduduk perkotaan di dunia menghirup udara yang kualitasnya buruk bagi kesehatan atau setidaknya dengan kadar polutan mendekati Nilai Ambang Batas. Seorang pengemudi bus umum tidak terlepas dari keterpaparan oleh zat kimia, baik dari sumber yang bersifat internal (dalam kendaraan) maupun eksternal (luar kendaraan). Beberapa bahan pencemaran yang dikenal seperti gas Karbon Monoksida (CO), Timbal (Pb), Ozon (O3), Nitrogen Oksida (NOX), Belerang Oksida (SOX), radikal bebas dan debu (Dadi S, 2003:9). Begitu pula bagi seorang tukang ojek yang keseharian pekerjannya berhubungan langsung jalan raya, tentunya juga tidak terlepas dari keterpaparan oleh zat-zat kimia pencemar tersebut.

Berdasarkan Undang-Undang Kesehatan N0. 23 tahun 1992 pada bagian lima kesehatan lingkungan pasal 22 menyebutkan kesehatan lingkungan diselenggarakan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat. Kesehatan Lingkungan dilaksanakan terhadap tempat umum, lingkungan pemukiman, lingkungan kerja, angkutan umum dan lingkungan lainnya yang meliputi penyehatan air, udara, pengamanan limbah padat, limbah cair, limbah gas, radiasi dan kebisingan, pengendalian vektor penyakit, dan pengadaan atau pengamanan lainnya (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia, 1992:17)

Berdasarkan laporan pengujian kualitas udara ambien di Kabupaten Semarang tahun 2003 yang dilakukan oleh Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten Semarang dengan lokasi di depan Pasar Bandarjo Ungaran didapatkan hasil analisa untuk parameter Sulfur dioksida (SO2) 75,11μg/Nm2, Nitrogen oksida (NO2) 49,19μg/Nm2, Karbon monoksida (Co) 7,72 μg/Nm2, Floating/debu (PM10) 71,67 μg/Nm2. Dari hasil pengujian dan pengukuran parameter kualitas udara ambien di lokasi tersebut dibandingkan dengan Baku Mutu Udara Ambien sesuai dengan Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 8 tahun 2001 dapat disimpulkan bahwa parameter yang diuji di lokasi tersebut masih dibawah Baku Mutu Udara Ambien. Dampak pencemaran udara terhadap kehidupan manusia biasanya dirasakan dalam waktu relatif lebih lama. Salah satu dampak pencemaran udara ini adalah munculnya gangguan sistem pernafasan pada manusia (Karden Eddy Sontang Manik, 2003:18).

Seiring pertambahan umur, kapasitas paru-paru akan menurun. Kapasitas paru orang berumur 30 tahun ke atas rata-rata 3.000 ml sampai 3.500 ml, dan pada mereka yang berusia 50-an tentu kurang dari 3.000 ml. Kapasitas paru-paru yang sehat pada laki-laki dewasa bisa mencapai 4.500 ml sampai 5.000 ml atau 4,5 sampai 5 liter udara. Sementara itu, pada perempuan, kemampuannya sekitar 3 hingga 4 liter (Tjandra Yoga Aditama, Kompas.co.id:2005)

Perubahan struktur, fungsi saluran nafas dan jaringan paru-paru dapat juga disebabkan oleh kebiasaan merokok. Perubahan pada saluran nafas besar yaitu sel mukosa membesar (hipertrofi) dan kelenjar mukus bertambah banyak (hiperplasia) sedangkan pada saluran nafas kecil, terjadi radang ringan hingga penyempitan akibat bertambahnya sel dan penumpukan lendir. Perubahan pada jaringan paru-paru yaitu terjadi peningkatan jumlah sel radang dan kerusakan alveoli. Akibat perubahan anatomi saluran nafas pada perokok akan timbul perubahan pada fungsi paru-paru dengan segala macam gejala klinisnya. Hal ini menjadi dasar utama terjadinya penyakit obstruksi paru menahun (PPOM). Dikatakan merokok merupakan penyebab utama timbulnya PPOM, termasuk emfisema paru-paru, bronkitis kronis, dan asma (Hans Tandra, Kompas.Com:2001). 

Agar fungsi pernafasan menjadi baik, berolahraga merupakan cara yang sangat baik untuk meningkatkan ventilasi fungsi paru. Olahraga merangsang pernafasan yang dalam dan menyebabkan paru berkembang, oksigen banyak masuk dan disalurkan ke dalam darah, karbondioksida lebih banyak dikeluarkan. Seseorang yang sehat berusia 50 tahun keatas yang berolahraga teratur mempunyai volume oksigen 20-30% lebih besar daripada orang berusia muda yang tidak berolahraga (M. Arifin Nawas, Sinar harapan.com:2005).

Tukang ojek bekerja dengan waktu yang tidak tentu bisa mulai pagi hari, siang hari, bahkan sampai malam hari. Berdasarkan survei awal yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 11, 13 dan 15 November 2006 pada 4 pangkalan ojek di alun-alun Ungaran Kabupaten Semarang, 46% dari 50 orang tukang ojek mempunyai penyakit pernafasan, dengan prevalensi tertinggi 86,96% untuk penyakit batuk, 4,35% untuk masing-masing penyakit batuk dan nyeri dada, batuk dan sesak dada, TBC dan asma. Sarana pelayanan kesehatan yang banyak dimanfaatkan oleh tukang ojek adalah Puskesmas (47,83%), Rumah Sakit/BP4 (17,39%), Dokter (4,35%), Dokter/Puskesmas (4,35%) dan 30,43% tukang ojek tidak memeriksakan diri ke sarana pelayanan kesehatan yang ada apabila mereka sedang sakit, hal ini menunjukkan bahwa masih rendahnya kesadaran tukang ojek terhadap kesehatan dirinya sendiri. 72% tukang ojek memanfaatkan waktu sengganggangnya sambil menunggu penumpang dengan menghisap rokok. Berdasarkan masa kerja tukang ojek, 64% bekerja kurang dari 6 tahun, 18% bekerja antara 6-10 tahun dan 18% bekerja lebih dari 10 tahun. Kondisi Lingkungan, beban kerja tambahan dan kapasitas kerja yang berhubungan dengan pekerjaan tukang ojek dapat mempengaruhi kesehatan terutama gangguan pernapasan.

Berdasarkan kenyataan di atas peneliti ingin meneliti faktor-faktor yang berhubungan dengan kapasitas vital paru tukang ojek di Alun-alun Ungaran Kabupaten Semarang pada bulan Maret tahun 2007.
 
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.